function wpversion_remove_version() { return ''; } add_filter('the_generator', 'wpversion_remove_version'); Suasana Bali, Tapi Tetap Di Jakarta? Kunjungi Pura Aditya Jaya Rawamangun - RAMA MURTABA
Pura Aditya Jaya Rawamangun
Jalan

Suasana Bali, Tapi Tetap Di Jakarta? Kunjungi Pura Aditya Jaya Rawamangun

on
15 Juli 2018

Pada 27 Juni 2018 kemarin, saya dan beberapa rekan dari Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta (Kubbu) berkesempatan mengelilingi Ibu Kota. Hari libur nasional yang ditetapkan oleh presiden karena beberapa kota mengadakan pilkada serentak kecuali Jakarta. Kegiatan city tour kali ini mengusung tema “Unity in Diversity” atau lebih dikenal dengan Bhineka Tunggal Ika dalam bahasa Indonesia. Jadi, kita semua akan mengunjungi beberapa rumah ibadah dari beberapa agama yang telah diakui di Indonesia. Beberapa destinasi wisata merupakan wish list saya sejak tahun lalu, sehingga tanpa pikir panjang akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan city tour ini.  Namun pada artikel ini saya hanya membahas mengenai Pura Aditya Jaya Rawamangun saja. Yuk, disimak sampai akhir.

Baca juga: Warna-warni Keindahan di Art Jog

Patung barong yang menghiasi pelataran Pura Aditya Jaya

Pada pukul 10.30 saya dan Bang Achmadi akhirnya sampai di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Pura ini merupakan pura terbesar yang berada di daerah Jakarta. Berlokasi di Rawamangun – Jakarta Timur, Pura yang dikenal dengan sebutan PAJ ini sangat dekat dengan Universitas Negeri Jakarta.

Pura Aditya Jaya Rawamangun

Dekorasi patung yang berada di wilayah timur Pura Aditya Jaya Rawamangun | Sumber: jajakarama.com

Bangunan dan ornamen yang berada di PAJ memiliki gaya khas seperti pura yang berada di Bali. Untuk masuk ke PAJ saya dan rekan Kubbu harus lewat dari arah timur pura. Saat memasuki wilayah ini, terdapat beberapa gazebo dan patung dengan kain berpola papan catur. Di sekitar wilayah luar pura disebut sebagai Nista Mandala atau Jaba Sisi, di sini terdapat ruang tunggu, kantin, dan sebuah bale di dekat sebuah pohon beringin yang cukup besar.

Kunjungi juga: Official Page di Facebook

Akses masuk ke wilayah tengah Pura Aditya Jaya
Pura Aditya Jaya Rawamangun

Gerbang Paduraksa | Sumber: jajakarama.com

Untuk masuk ke wilayah tengah pura, saya dan rekan kubbu harus melewati Gerbang Paduraksa yang menjadi penghubung antara wilayah utama dengan wilayah tengah. Seperti gapura pada umumnya, Gerbang Paduraksa memiliki satu buah pintu utama yang berada di tengah dan dua buah pintu kecil di sisi kanan dan kiri. Untuk wilayah tengah pura disebut sebagai Madya Mandala atau Jaba Tengah, di dalam area ini terdapat Bale Wantilin yang difungsikan untuk mempersiapkan semua keperluan upacara keagamaan atau Pujawali.

Pura Aditya Jaya Rawamangun

Umat Hindu yang sedang beribadah di PAJ | Sumber: jajakarama.com

Sejarah agama Hindu dan perbedaannya

Karena bertepatan dengan hari libur nasional, Pura Aditya Jaya Rawamangun ramai dikunjungi oleh umat Hindu yang ingin melakukan ibadah. Saya dan rekan kubbu disambut oleh Bli Agung di sebuah bale yang disebut Bale Ligong yang berada di tengah pura. Kami mendapatkan cerita singkat mengenai sejarah umat Hindu dan perbedaan antara Hindu Bali dengan Hindu Jawa. Menurut umat Hindu, cara beribadah dipengaruhi dari budaya sekitar. Ibarat pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, jadi jangan heran kalau kamu melihat tatacara ibadah umat Hindu di setiap daerah mungkin saja berbeda. Namun, dari isi sajen yang disediakan bisa dibilang sama yaitu bunga, buah, dan makanan ringan.

Pura Aditya Jaya Rawangun

Bli Agung sedang menceritakan sejarah Hindu kepada member Kubbu | Sumber: jajakarama.com

Bli Agung dengan antusias menceritakan mengenai keberadaan umat Hindu dan sifat toleransi yang harus dimiliki antar umat agama. Karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan hal baik dan hanya oknumnya saja yang berulah. Setelah mendengarkan cerita dari Bli Agung, saya memutuskan untuk berkeliling di pura, dan secara tidak sengaja mata saya tertuju pada sekumpulan ibu-ibu yang sedang latihan menari di depan Gerbang Paduraksa.

Pura Aditya Jaya Rawamangun

Kegiatan tari di Pura Aditya Jaya Rawamangun | Sumber: jajakarama.com

Peletakkan bija dan maknanya
Pura Aditya Jaya Rawamangun

Peletakkan bija pada umat Hindu | Sumber: jajakarama.com

Penggunaan beras atau bija yang telah dicuci dengan air bersih atau air cendana. Terdapat lima titik untuk meletakkan bija atau yang disebut sebagai Panca Adisesa, yaitu di pusar (manipura cakra), hulu hati (padma hrdaya), leher (wisuda cakra), langit-langit mulut, dan di antara dua alis (anjacakra). Namun, dikarenakan pada saat sembahyang umat Hindu menggunakan pakaian lengkap maka hanya tiga titik saja yang diletakkan bija. Anjacakra dianggap sebagai tempat mata ketiga, Wisuda Cakra sebagai simbol penyucian dengan harapan mendapatkan kebahagiaan, dan di mulut sebagai simbol menemukan kesucian rohani.

Patung barong sang penjaga candi utama
Pura Aditya Jaya Rawamangun

Patung Barong di Pura Aditya Jaya Rawamangun | Sumber: jajakarama.com

Berjalan sedikit ke arah tengah, terdapat sebuah patung barong yang menyita perhatian saya. Patung ini memakai udeng dan kain khas Bali, seolah-olah bertugas sebagai penjaga dari candi utama yang berada di wilayah tengah pura. Di samping candi, terdapat sebuah bale yang diberi nama Bale Poedan dan dijadikan sebagai tempat petinggi agama memimpin upacara keagamaan. Setiap sentuhan dari bangunan yang berada di Pura Aditya Jaya Rawamangun benar-benar menyerupai pura yang berada di Bali. Tak heran jika sering kali mendengar “Jakarta rasa Bali” ketika mengunjungi tempat ini.

Pura Aditya Jaya Rawamangun

Candi Utama di Pura Aditya Jaya Rawamangun | Sumber: jajakarama.com

Di area tengah pura, saya dibuat kagum dengan kemegahan candi terbesar yang berada di PAJ. Candi ini disebut juga dengan nama Utama Mandala. Di antara bangunan yang ada di pura, candi ini merupakan tempat yang paling sakral dan hanya bisa dimasukin oleh umat Hindu yang akan beribadah dan menyerahkan sesajen di sana. Candi yang memiliki enam tingkat ini berdiri dengan kokohnya dan menjadi pusat perhatian. Tak hentinya saya mencoba mengabadikan kemegahan candi Utama Mandala dari berbagai sudut. Meskipun berada di pinggir jalan raya, tapi entah kenapa suasana di dalam pura benar-benar terasa hening. Sehingga para umat Hindu dapat melakukan ibadahnya dengan tenang tanpa kebisingan.

Lokasi dan alamat lengkap Pura Aditya Jaya Rawamangun
Pura Aditya Jaya Rawamangun

Pintu Samping Gerbang Paduraksa | Sumber: jajakarama.com

Buat kamu yang ingin berkunjung ke Pura Aditya Jaya Rawamangun, mudah sekali aksesnya. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, kalau kamu tau UNJ, kamu bisa mengambil jalan yang menuju ke arah sana karena lokasinya tidak jauh dari UNJ. Saran saya, lebih baik kamu menggunakan ojek online jika ingin berkunjung ke PAJ karena pintu yang biasa dibuka terbilang cukup jauh jika jalan kaki. Kamu bisa memilih drop point di Masjid At-taqwa dan tinggal jalan sedikit ke sebelahnya, kamu sudah bisa menemukan pintu masuk ke PAJ. Berikut alamat lengkapnya:
Jl. Daksinapati Raya No.10 RT11/RW14
Rawamangun, Kota Jakarta Timur
Daerah Khus Ibukota Jakarta – 13220

TAGS
RELATED POSTS
5 Comments
  1. Balas

    Antin Aprianti

    23 Juli 2018

    Aihhh lengkap sekali ulasannya, dengerin banget Bli Agung nih kayanya hehe

    • Balas

      Rama Murtaba

      24 Juli 2018

      Hahahaha, bisa aja kak antin. Kan tujuannya nulis untuk memberikan informasi. Jadi ya begitu lah.

  2. Balas

    Ristiyanto

    2 Agustus 2018

    Yang sering terlihat itu Anjacakra di perempuan Bali. Kadang mikir, itu beras cara nempelnya gimana hehehe…

    • Balas

      Rama Murtaba

      5 Agustus 2018

      Kalau tidak salah lihat sih kemarin itu berasnya dicuci dulu, entah dicuci dengan air khusus atau air biasa agar bisa nempel seperti itu. saya juga bingung mas tris waktu lihatnya hahaha

    • Balas

      Rama Murtaba

      16 Agustus 2018

      saya lihatnya sih dibasahin dulu mas, tapi entahlah ada air khusus atau tidak karena sungkan untuk tau lebih jauh waktu itu.

LEAVE A COMMENT

RAMA MURTABA
INDONESIA

Nama saya Rama, seorang melankolis yang sedang menggeluti hobi barunya dibidang fotografi dan travelling. Dengan web ini saya akan membagikan pengalaman saya yang dibagi dalam tiga kategori yaitu Jalan, Jajan, dan Kamar.

MY TWO CENTS

“The very basic core of a man’s living spirit is his passion for adventure. The joy of life comes from our encounters wi“The very basic core of a man’s living spirit is his passion for adventure. The joy of life comes from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun”th new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun”“The very basic core of a man’s living spirit is his passion for adventure. The joy of life comes from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun”